Pahit Manis Kenangan Piala Dunia Alessandro Nesta

Kondisi fisik mantan bek Milan itu menutupi peluangnya bisa bermain di final Piala Dunia FIFA, meski dia tak menyesalinya.

OLEH

M YANUAR F

Ikuti @mohammadyanuar di twitter Pada 2006, ketika Jerman menjadi tuan rumah perhelatan akbar Piala Dunia, Alessandro Nesta berusia 30 dan siap ambil bagian di turnamen setelah menjalani musim yang kurang mengesankan di Italia dan Eropa bersama Milan.

Bek tengah Italia itu, yang berencana pensiun setelah musim MLS bersama Montreal Impact berakhir, menjadi pemain kunci Italia, yang mana mereka hanya kalah sekali dan kemasukan delapan gol.

Tapi jumlah laga yang sudah dijalani pemain jebolan akademi sepakbola Lazio itu berbicara dengan sendirinya.

Dia memulai semua laga fase grup di Jerman, tapi harus mengakhiri keterlibatannya di laga terakhir melawan Republik Ceko dengan cedera, yang mengakhiri pula petulangannya di Piala Dunia.

“Sebelum [Piala Dunia], saya bermain di setiap laga di liga, [jadi] ketika saya tampil di Piala Dunia, tubuh saya kelelahan dan saya begitu mudahnya mengalami cedera,” ungkap Nesta.

“Setelah istirahat dua hari, saya mencoba bermain, karena saya merasa kami bisa memenangi Piala Dunia, dan saya ingin bermain bersama rekan-rekan lainnya di lapangan.”

“Setelah mengalami cedera kedua, saya menyatakan berhenti. Tapi di setiap hari dan tiap sesi latihan, saya tetap bersama tim dan terus berusaha membantu rekan-rekan saya.”

Keyakinan Nesta bisa memenangi turnamen empat tahunan itu terbukti. Skuat asuhan Marcello Lippi berhasil meraih trofi juara sekali lagi dan pemain yang kini berusia 37 tahun itu memuji peran allenatore mereka atas kesuksesan tersebut.

“Marcello Lippi mungkin menjadi salah satu terbaik di dunia,” ungkapnya.

“Dia bisa mengatur waktu dua bulan sebelum Piala Dunia dengan sangat baik, media dan pemain di Italia. Ada tekanan besar ketika ada Piala Dunia, mereka menggila di Italia, seperti di Inggris, atau di Eropa dan bagi saya, Marcello Lippi adalah yang terbaik di dunia.”

Saat Nesta absen, Italia mengandalkan pada Fabio Cannavaro untuk bisa menjaga clean sheets selama fase knockout dan menuju ke final, dengan Zinedine Zidane membawa Prancis memimpin sebelum berbalik menjadi public enemy karena sundulan mautnya kepada Marco Materazzi, yang menjadi penyama kedudukan.

Penalti akhirnya menentukan hasil akhir, tapi Nesta dinilai memiliki peran penting memperkuat lini belakang Italia di sepanjang turnamen, bersama Cannavaro, yang kemudian memenangi Ballon d’Or di tahun tersebut, contoh bagus atas kesolidan keduanya.

“Dia orang yang baik, pemain yang sangat bagus dan kapten yang hebat,” ungkapnya.

“Saya pikir sistem pertahanan Italia adalah akademi yang bagus, dengan sejarah besar di dalamnya, seperti Franco Baresi, Paolo Maldini, Gaetano Scirea dan saya harap akademi ini terus mengembangkan pemain baru.”

Dengan Italia memastikan tampil di Brasil 2014, Nesta yakin negaranya bisa memenangi trofi kelima dan tak sabar untuk menyaksikannya.

“Saya pikir Piala Dunia berikutnya bagi saya akan menjadi hal yang luar biasa. Orang Brasil sudah memiliki sepakbola dalam darah mereka, turnamen ini akan menjadi salah satu yang terbaik dalam sejarah,” ujarnya antusias.

“Italia bisa juara karena aya merasa pemain Italia memiliki mentalitas yang bagus, organisasi dan akademi yang baik.”

from Blogger http://prediksi-sepakbola-terbaru.blogspot.com/2014/02/pahit-manis-kenangan-piala-dunia.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s